Gambar Ilustrasi bersumber dari Google
Beritaitu.com - Dalam sebuah acara di masjid Sunda Kelapa ustadz Salim bercerita tentang Nabi Yusuf A.S. Di tengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama'ah, "Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf?"
"Zulaikha," jawab jama'ah kompak.
"Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Al- Qur'an."
Refleks jama'ah menjawab, "Dari hadits." Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur'an dengan lebih detil.
"Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur'an?"
Semua jama'ah diam. Ustadz Salim melanjutkan penjelasannya.
"Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur'an."

Betapa Allah Maha Baik. Tidak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.
Pernahkah ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain?
Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya?
Jika saja mau jujur, sungguh... itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Kalo kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita amat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain. Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau terdengar oleh mereka. Sadar atau tidak sadar setiap hari kita banyak di antara kita yang melakukan maksiat diam- diam, mencuri diam- diam, korupsi diam- diam, menggunjing diam- diam.

Setiap hari banyak diantara kita yang sadar atau tidak sadar berbohong demi sesuap nasi, mengambil hak orang lain, menyakiti orang lain. Sadar atau tidak sadar kita banyak 'mencederai' Allah dan manusia.

Saudaraku, jika saat ini kita tampak hebat dan baik di mata orang, itu hanya karena Allah SWT menutupi aib dan keburukan kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tidak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.

Maka janganlah merasa sombong dan mengangap diri selalu baik serta selalu membicarakan dan menggunjing keburukan dan masa lalu orang lain. Boleh jadi orang yang dibicarakan melakukan satu dosa tapi kita melakukan dosa lain yang bahkan lebih banyak tapi tak terlihat. Boleh jadi dosa dan kesalahan kita jauh lebih berat dari orang yang kita bicarakan tetapi Allah tidak membuka aib kita.