Cara Sukses Mengatur Pengeluaran Pribadi
Tips Keuangan - Setiap orang ingin memiliki kehidupan keuangan yang sehat di saat ini dan di masa depan. Tapi tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkannya dan mengelola keuangannya. Untuk menciptakan keuangan yang sehat di masa depan kita harus mengenali dasar dari perencanaan keuangan. Langkah yang harus kita tempuh untuk mengatur pengeluaran adalah mengatur cashflow atau aliran kas. Cashflow terbagi dua, yaitu pemasukan dan pengeluaran. Keuangan kita sehat sangat tergantung pada kepiawaian kita mengontrol cashflow jangan sampai lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. 

3 kondisi cashflow yang patut kita cermati : 


  1. Pengeluaran > Penghasilan : kurang atau minus. Sangat pengeluaran tidak di jaga dan lebih besar dari pemasukan, maka yang terjadi bisa 2 hal ; anda akan berutang untuk menutupi kekurangan atau mangambil asset anda, biasanya tabungan atau investasi yang lain. Kalau hal ini terjadi dalam waktu yang lama akan berakibat buruk pada kondisi keuangan keluarga. 
  2. Pengeluaran = Penghasilan, artinya impas adalah 0. Saat cashflow impas biasanya yang tercukupi adalah kebutuhan saat ini atau kebutuhan jangka pendek ( 1 sampai 2 tahun) 
  3. Pengeluaran < pemasukan, artinya lebih atau surplus. Saat surplus pemasukan lebih besar, ini berarti pemasukan tidak semua dipakai untuk kebutuhan saat ini maka kelebihan di pakai untuk menciptakan aset, mengakumulasi aset, investasi dan lain-lain. 

Untuk bisa mencapai surplus kita harus buat anggaran pengeluaran. Tugas dari anggaran adalah mengontrol pengeluaran agar tidak melewati batas. Cara yang paling sederhana untuk membuat anggaran dengan sistem amplop. Pada saat mendapatkan penghasilan langsung alokasikan pengeluaran sesuai dengan pos-pos yang sudah di tentukan dan masukkan ke dalam amplop. Selanjutnya disiplin dan komitmen untuk patuh pada anggaran. 

Berikut adalah contoh pengeluaran yang umum dilakukan, bisa di sesuaikan dengan kondisi dan prioritas masing-masing. 

  • Infaq. Contohnya : zakat, sedekah, kegiatan sosial sebesar 2.5 % sampai 10 %. 
  • Tabungan dan Investasi. Contoh ; tabungan. dana darurat, investasi, dana pendidikan dan dana pensiun (minimal 20%) 
  • Proteksi. Contoh : BPJS, asuransi jiwa, asuransi kesehatan ( 5 sampai 10%)
  • Biaya Hidup. Contoh : makan, transport, kontrakan, listrik, air, tel ( lebih kurang 40%) 
  • Cicilan Utang. Contoh : kredit rumah, kredit kenderaan, atau utang lainnya (maksimal 30%) 
  • Pengeluaran Pribadi. Contoh; hoby, pakaian, hiburan, perawatan atau arisan (lebih kurang 10%). 
Ini hanya sebagai contoh, semuanya tergantung kepada individu karena prioritas yang tidak sama. Misalnya gaji Rp. 10.000.000,- maka anggaran pengeluarannya bisa seperti ini : 


  • Zakat, Infaq, sedekah, kegiatan sosial, tunjangan orang tua ; Rp. 1.000.000
  • Tabungan : Rp. 1.000.000, 
  • Investasi : Rp. 1.000.000,- 
  • Asuransi : Rp. 500.000 
  • Kebutuhan Hidup : Rp. 2.500.000,- 
  • Cicilan Hutang ; Rp. 3.000.000 
  • Pengeluaran pribadi ; Rp. 1.000.000 
Komposisi dan kondisi bisa di sesuaikan berdasarkan pendapatan, pengeluaran, kebutuhan dan skala prioritas.