Seputar Islam - Syeikh Ahmad Kuftaro (Grand Mufti Suriah terdahulu) bisa dibilang dai paling berpengaruh di suriah pada masanya, ribuan orang telah masuk islam dan taubat melalui tangannya, belum lagi dari murid-muridnya.

Yang menjadi ciri khas beliau adalah kedekatannya dengan semua kelompok yang berbeda keyakinan dengannya, menurut beliau semua manusia adalah saudara, sering beliau mengingatkan muridnya pada ayat al quran yang mengatakan bahwa tuhan mengutus kepada kaum ad saudara mereka hud, dan mengutus kepada kaum tsamud saudara mereka shaleh. Kenapa tuhan memilih kata "saudara" padahal kita tau bagaimana perlakuan kedua kaum itu kepada nabi hud AS dan nabi shalih AS. 
Tidak pernah kita berpikir apa makna mendalam dari kata saudara?

Kembali ke abad 21, yang mungkin menjadi abad paling gelap dalam sejarah islam setelah abad ke 5 dan abad ke 20, jangankan dengan yang lain keyakinan, bahkan yang sama-sama mengucap 2 kalimat syahadat saja kita tidak merasa bersaudara. Ada apa dengan umat yang seharusnya seperti satu tubuh, sampai kapan kita terus saling mencurigai kepada anggota tubuh yang lain.

Seolah kita lupa dengan persaudaraan yang telah diajaran pendahulu kita, seolah kita lupa ketika imam syafii berdebat panas dengan yunus bin abi a'la, dan pada akhirnya diskusi panas ini berakhir dengan kedua pihak tetap pada pendapatnya masing-masing. Lalu mereka pulang kerumah masing-masing, ketika malam tiba seseorang mengetuk pintu rumah yunus ibn abi a'la, lalu beliau bertanya dari balik pintu "siapa yang bertamu?".
Maka tamu menjawab "aku muhammad ibnu idris" maka berkelabat dalam pikiran yunus ibn abi a'la semua muhammad ibnu idris yang ada di kota baghdad kecuali muhammad ibnu idris asy-syafii, karena debat panas mereka disiang hari, begitu pintu dibuka yang didapatinya malah imam muhammad ibnu idris asy-syafii. 
Lalu beliau bertanya "ada gerangan apa malam-malam begini bertamu wahai saudaraku?".
Imam syafi'i menjawab "aku ingin meminta maaf kepadamu, aku ingin agar aku melewati malam ini dalam keadaan tak ada rasa marah dalam hati kita berdua"
Akhlak macam apa ini? 
Berbeda? 
Kenapa perbedaan harus menghilangkan cinta? 
Bahkan jika aku kafir dimatamu dan kamu kafir dimataku, apakah kita tidak boleh saling mencintai?
Apakah muhammad membenci abu thalib yang tidak satu keyakinan degannya? 
Permasalahannya bukan pada perbedaan pendapat, tapi lebih pada bagaimana kita hidup dalam perbedaan, bisakah kita berbeda pendapat sebagaimana yunus dan syafii?

Diskusi tidak terlarang, tapi sekali-sekali dalam diskusi lihatlah hati, apakah aku senang ketika pendapatku lebih kuat, atau marah ketika sebaliknya, atau makna yang lebih dalam bagaimana jika tuhan melihat hatiku ketika aku diskusi dan debat, saat aku mengatakan aku sedang membela agamanya padahal hatiku sedang membanggakan diri, mana mungkin aku berdiskusi atas nama tuhan disaat yang sama aku membenci hambanya, padahal sang penciptanya sangat merindukan hambanya. "Persaudaraan" seolah menjadi suatu yang hilang dalam hati kita. Makanya kita tidak mengerti bagaimana hidup dalam perbedaan.
Arti Persaudaraan dan Hidup Dengan Perbedaan - Seputar Islam
Penulis : Fauzan di Damaskus